Senin, 28 April 2014

Bolehkah Aku #2

Di pekat, telah kaususun jarak dan spasi. Di antara kita memuai setiap tatapan yang redup dan lalu kabur. Aku menanti di sudut ruangan, berendam luka-luka manis sebab rasaku di ujung langkah dijemput gerimis. Raib seutuhnya oleh kepura-puraan.



Rinduku setulus pagi hari. Aku berembun setiap kata di pangkal lidah. Kamu sempat menjauh sebelum kita saling menyapa.


Bolehkah aku menjemput namamu?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar