Jumat, 02 Mei 2014

Pengembaraan Perahu Kertas



Kureka ujung jemari berkuku merah muda, kamuflase bagi buah cerita yang terdampar mungkin di suatu ranah jajahan atau ujung menara Eiffel. Bukannya kemasokhisan hikayat yang sempurna menelanjangi jati diri dari kesucian cinta, namun perasaan bersibaku dengan hasrat memiliki utuh dan genap yang suka menyumpahi sebegitu pecundangnya kita mengenai rasa dan diksi setia. Kau dan aku memilih agar tak ada yang bertaut di jemari kita, sementara aku lukis sendiri betapa aku pasrah padamu di telapak tanganmu sebagai tanda cinta ini bukan retorika simbolis.

Digdayamu ada pada perahu kertas yang kaulepas di arus sungai Mahakam. Kauceritakan semua keluh kesah lewat tinta hitam luntur, kaukisahkan semua rindu-rindu lewat halus desau angin sore, kaudendangkan semua asa pada tabuh nyanyian buluh perindu, genap bermandi cahaya di celah rerimbunan bakau. Biarkan aku mendayungnya, kan kutunaikan semua damba. Kan kudamparkan perahumu di bukit tertinggi dunia agar kautau bukan pencakar langit yang mencuat di mata camar, tapi warna-warni taman bunga.


Membicarakan Alam



            “Petang selalu mempesona...”
            “Kemana kira-kira burung-burung ini berlabuh?”
            “Ke gua-gua?”
            “Aku kira tidak...”
            “Baik, ke samudera luas. Buatmu logis, kan?”
            “Ya, mencoba bergaul dengan dimensi tak lumrah di hidup mereka...”


            Sejarah kita menyeruak kembali di suatu teras senja. Lelangitan kuning atau koloni camar-camar, topik kita setiap hari. Kita percaya, semesta ini sinkron dan saling bersignifikasi. Sebab pada dasarnya, kita sedarah dengan alam, bersaudara dengan rinai hujan. Di suatu masa kita terbebas dari belenggu dinding rahim ibu, kita telah turut menjadi keluarga besar semesta. Manusia mengajarkan kita pola pikir manusiawi sehingga kita lupa pada relasi kita dengan alam dan lalu menjadi begitu angkuh, merasa merajai hierarki kehidupan.

            “Kamu ingin berfoto?”
            “Tidak, fotoku di senja sudah begitu banyak...”
            “Foto-“mu”, kan? Bukan foto “kita”?”
            “Kamu mau mengahambur bersama  lenganku?”
            “Tentu. Jangan lepas taut jemarimu.”
            “Mengapa kamu mau lakukan ini?”

            “Sebab aku ingin menerobos dimensimu, memasuki ruang absurditasmu. Aku tak ingin diberangus logika yang malah menjadikan aku sejurang jauh dari kamu. Kamu yang buat aku sadar kita ini hidup di dunia bukan untuk menguasai kehidupan semata-mata karena kita manusia. Tapi kita harus menempatkan diri kita sebagai makhluk, yang setara dengan tetumbuhan dan burung-burung. Aku ingin memahami dunia dengan sudut pandangmu. Aku ingin belajar memahami suatu visual sebagai suatu roh dalam hidup, bukan sekedar cahaya yang tertangkap lensa mata. Aku ingin menjiwai jiwamu. Agar kita benar-benar satu.”

Surat Rindu

Kau merinduku? 



Aku juga begitu. Sudah tiga tahun kita dijaraki labirin tanpa pernah kita tau mana pintu masuk untuk saling bersua. Kalau kita sama-sama rindu, kita bisa mengikat janji, mungkin? Mari bertemu di ruang rindu, nanti malam, di pekarangan mimpi. Itu tempat bagi manusia-manusia yang masih mencintai tanpa perlu bersemuka, karena cinta adanya di hati, bukan di raga.


Sincerely

Your old friend, who has been hiding a love inside her shirt.