Kureka ujung
jemari berkuku merah muda, kamuflase bagi buah cerita yang terdampar mungkin di
suatu ranah jajahan atau ujung menara Eiffel. Bukannya kemasokhisan hikayat
yang sempurna menelanjangi jati diri dari kesucian cinta, namun perasaan bersibaku
dengan hasrat memiliki utuh dan genap yang suka menyumpahi sebegitu
pecundangnya kita mengenai rasa dan diksi setia. Kau dan aku memilih agar tak
ada yang bertaut di jemari kita, sementara aku lukis sendiri betapa aku pasrah
padamu di telapak tanganmu sebagai tanda cinta ini bukan retorika simbolis.
Digdayamu ada
pada perahu kertas yang kaulepas di arus sungai Mahakam. Kauceritakan semua
keluh kesah lewat tinta hitam luntur, kaukisahkan semua rindu-rindu lewat halus
desau angin sore, kaudendangkan semua asa pada tabuh nyanyian buluh perindu, genap
bermandi cahaya di celah rerimbunan bakau. Biarkan aku mendayungnya, kan
kutunaikan semua damba. Kan kudamparkan perahumu di bukit tertinggi dunia agar
kautau bukan pencakar langit yang mencuat di mata camar, tapi warna-warni taman
bunga.










