Jumat, 02 Mei 2014

Pengembaraan Perahu Kertas



Kureka ujung jemari berkuku merah muda, kamuflase bagi buah cerita yang terdampar mungkin di suatu ranah jajahan atau ujung menara Eiffel. Bukannya kemasokhisan hikayat yang sempurna menelanjangi jati diri dari kesucian cinta, namun perasaan bersibaku dengan hasrat memiliki utuh dan genap yang suka menyumpahi sebegitu pecundangnya kita mengenai rasa dan diksi setia. Kau dan aku memilih agar tak ada yang bertaut di jemari kita, sementara aku lukis sendiri betapa aku pasrah padamu di telapak tanganmu sebagai tanda cinta ini bukan retorika simbolis.

Digdayamu ada pada perahu kertas yang kaulepas di arus sungai Mahakam. Kauceritakan semua keluh kesah lewat tinta hitam luntur, kaukisahkan semua rindu-rindu lewat halus desau angin sore, kaudendangkan semua asa pada tabuh nyanyian buluh perindu, genap bermandi cahaya di celah rerimbunan bakau. Biarkan aku mendayungnya, kan kutunaikan semua damba. Kan kudamparkan perahumu di bukit tertinggi dunia agar kautau bukan pencakar langit yang mencuat di mata camar, tapi warna-warni taman bunga.



Sepeninggal perahumu, ilusimu memberangus nestapa nurani. Tiada yang tertinggal selain buruan nafas hanya pada oase sungai, di padang petang Solo. Kamu pun tersedu sedan di gerimis. Kamu cuma punya diri dan jiwa hampa, di genggaman tanganmu kamu cuma mungkin menyerah.
Kau tinggal tidur semua kacau kepala bermuatan kalut marut. Rohmu meninggalkan kamu seraya kamu bermimpi, menuju udara bebas, melewati jendela, menukik di cakrawala, menerobos ruangan purba, mencari-cari perahu kauhanyutkan diterkam buas semesta dan garangnya kala! Kaumenangis di pejamnya mata sementara rohmu tak henti mencari-cari.


Tapi rohmu sungkan kembali sebelum perahunya kembali. Ia bertamu di segala arah mata angin, seraya kaumeracau di guruh serta merta kilat mengkilat dalam semua bisu rancu. Tiada desau kecuali anak kucing kehujanan, bulu-bulunya berdiri menantang petir.

Kemana mesti mencari, bukan rumput bergoyang yang maha tau. Sementara perahumu kudayung terus menembus dimensi nonmateri. Terus kudayung. Perjalanannya melalui musim-musim. Terperanjat di ranggas jati, terperangkap di runtuh gua salju.

Perahu kertasmu menghantam karang kali. Maafkan aku, janjiku mendayung hingga ke bukit tertinggi tak sempat tunai. Aku gugur di pertapaan ini.

Bukan di bukit tertinggi.
Perahumu terdampar di pekaranganku.


Di sini cinta warna-warni tumbuh subur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar