Kureka ujung
jemari berkuku merah muda, kamuflase bagi buah cerita yang terdampar mungkin di
suatu ranah jajahan atau ujung menara Eiffel. Bukannya kemasokhisan hikayat
yang sempurna menelanjangi jati diri dari kesucian cinta, namun perasaan bersibaku
dengan hasrat memiliki utuh dan genap yang suka menyumpahi sebegitu
pecundangnya kita mengenai rasa dan diksi setia. Kau dan aku memilih agar tak
ada yang bertaut di jemari kita, sementara aku lukis sendiri betapa aku pasrah
padamu di telapak tanganmu sebagai tanda cinta ini bukan retorika simbolis.
Digdayamu ada
pada perahu kertas yang kaulepas di arus sungai Mahakam. Kauceritakan semua
keluh kesah lewat tinta hitam luntur, kaukisahkan semua rindu-rindu lewat halus
desau angin sore, kaudendangkan semua asa pada tabuh nyanyian buluh perindu, genap
bermandi cahaya di celah rerimbunan bakau. Biarkan aku mendayungnya, kan
kutunaikan semua damba. Kan kudamparkan perahumu di bukit tertinggi dunia agar
kautau bukan pencakar langit yang mencuat di mata camar, tapi warna-warni taman
bunga.
Sepeninggal
perahumu, ilusimu memberangus nestapa nurani. Tiada yang tertinggal selain
buruan nafas hanya pada oase sungai, di padang petang Solo. Kamu pun tersedu
sedan di gerimis. Kamu cuma punya diri dan jiwa hampa, di genggaman tanganmu
kamu cuma mungkin menyerah.
Kau tinggal
tidur semua kacau kepala bermuatan kalut marut. Rohmu meninggalkan kamu seraya
kamu bermimpi, menuju udara bebas, melewati jendela, menukik di cakrawala,
menerobos ruangan purba, mencari-cari perahu kauhanyutkan diterkam buas semesta
dan garangnya kala! Kaumenangis di pejamnya mata sementara rohmu tak henti
mencari-cari.
Tapi rohmu
sungkan kembali sebelum perahunya kembali. Ia bertamu di segala arah mata angin,
seraya kaumeracau di guruh serta merta kilat mengkilat dalam semua bisu rancu. Tiada
desau kecuali anak kucing kehujanan, bulu-bulunya berdiri menantang petir.
Kemana mesti
mencari, bukan rumput bergoyang yang maha tau. Sementara perahumu kudayung
terus menembus dimensi nonmateri. Terus kudayung. Perjalanannya melalui
musim-musim. Terperanjat di ranggas jati, terperangkap di runtuh gua salju.
Perahu kertasmu
menghantam karang kali. Maafkan aku, janjiku mendayung hingga ke bukit
tertinggi tak sempat tunai. Aku gugur di pertapaan ini.
Bukan di bukit
tertinggi.
Perahumu
terdampar di pekaranganku.
Di sini cinta
warna-warni tumbuh subur.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar