“Petang selalu mempesona...”
“Kemana kira-kira burung-burung ini berlabuh?”
“Ke gua-gua?”
“Aku kira tidak...”
“Baik, ke samudera luas. Buatmu logis, kan?”
“Ya, mencoba bergaul dengan dimensi tak lumrah di hidup
mereka...”
Sejarah kita menyeruak kembali di suatu teras senja.
Lelangitan kuning atau koloni camar-camar, topik kita setiap hari. Kita
percaya, semesta ini sinkron dan saling bersignifikasi. Sebab pada dasarnya,
kita sedarah dengan alam, bersaudara dengan rinai hujan. Di suatu masa kita
terbebas dari belenggu dinding rahim ibu, kita telah turut menjadi keluarga
besar semesta. Manusia mengajarkan kita pola pikir manusiawi sehingga kita lupa
pada relasi kita dengan alam dan lalu menjadi begitu angkuh, merasa merajai
hierarki kehidupan.
“Kamu ingin berfoto?”
“Tidak, fotoku di senja sudah begitu banyak...”
“Foto-“mu”, kan? Bukan foto “kita”?”
“Kamu mau mengahambur bersama lenganku?”
“Tentu. Jangan lepas taut jemarimu.”
“Mengapa kamu mau lakukan ini?”
“Sebab aku ingin menerobos dimensimu, memasuki ruang
absurditasmu. Aku tak ingin diberangus logika yang malah menjadikan aku
sejurang jauh dari kamu. Kamu yang buat aku sadar kita ini hidup di dunia bukan
untuk menguasai kehidupan semata-mata karena kita manusia. Tapi kita harus
menempatkan diri kita sebagai makhluk, yang setara dengan tetumbuhan dan
burung-burung. Aku ingin memahami dunia dengan sudut pandangmu. Aku ingin
belajar memahami suatu visual sebagai suatu roh dalam hidup, bukan sekedar
cahaya yang tertangkap lensa mata. Aku ingin menjiwai jiwamu. Agar kita
benar-benar satu.”


Tidak ada komentar:
Posting Komentar