Jumat, 02 Mei 2014

Membicarakan Alam



            “Petang selalu mempesona...”
            “Kemana kira-kira burung-burung ini berlabuh?”
            “Ke gua-gua?”
            “Aku kira tidak...”
            “Baik, ke samudera luas. Buatmu logis, kan?”
            “Ya, mencoba bergaul dengan dimensi tak lumrah di hidup mereka...”


            Sejarah kita menyeruak kembali di suatu teras senja. Lelangitan kuning atau koloni camar-camar, topik kita setiap hari. Kita percaya, semesta ini sinkron dan saling bersignifikasi. Sebab pada dasarnya, kita sedarah dengan alam, bersaudara dengan rinai hujan. Di suatu masa kita terbebas dari belenggu dinding rahim ibu, kita telah turut menjadi keluarga besar semesta. Manusia mengajarkan kita pola pikir manusiawi sehingga kita lupa pada relasi kita dengan alam dan lalu menjadi begitu angkuh, merasa merajai hierarki kehidupan.

            “Kamu ingin berfoto?”
            “Tidak, fotoku di senja sudah begitu banyak...”
            “Foto-“mu”, kan? Bukan foto “kita”?”
            “Kamu mau mengahambur bersama  lenganku?”
            “Tentu. Jangan lepas taut jemarimu.”
            “Mengapa kamu mau lakukan ini?”

            “Sebab aku ingin menerobos dimensimu, memasuki ruang absurditasmu. Aku tak ingin diberangus logika yang malah menjadikan aku sejurang jauh dari kamu. Kamu yang buat aku sadar kita ini hidup di dunia bukan untuk menguasai kehidupan semata-mata karena kita manusia. Tapi kita harus menempatkan diri kita sebagai makhluk, yang setara dengan tetumbuhan dan burung-burung. Aku ingin memahami dunia dengan sudut pandangmu. Aku ingin belajar memahami suatu visual sebagai suatu roh dalam hidup, bukan sekedar cahaya yang tertangkap lensa mata. Aku ingin menjiwai jiwamu. Agar kita benar-benar satu.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar